Membangun kultur bersama untuk perbaikan lingkungan melalui pengelolaan isu-isu perbaikan lingkungan dan mewujudkannya dalam aksi nyata di tataran kampus
Masalah lingkungan hidup dewasa ini kian memprihatinkan. Sebagai tempat bernaung seluruh mahluk hidup, masa depan pemeliharaan, pengelolaan, dan pemanfaatan lingkungan semakin mencemaskan. Kompleksnya banyak kepentingan disinyalir menjadi sebab rumitnya mencegah kerusakan lingkungan hidup disekitar kita, termasuk dalam pengelolaan sampah kota.
Pupuk Kompos Cair (PKC) Gramafert® Pupuk Kompos Cair (PKC) Gramafert adalah cairan yang dihasilkan dalam proses pengomposan (dekomposisi) secara aerob (aerasi maksimal) dalam komposter Bio Phoskko dengan menggunakan aktivator Green Phoskko (bakteri aktinomycetes- spesies aktinomyces naeslundii, Lactobacillus spesies delbrueckii, Bacillus Brevis, Saccharomyces Cerevisiae, ragi, dan jamur serta Cellulolytic Bacillus Sp). Produk ini merupakan hasil sampingan dari kompos padat dalam dekomposisi menggunakan komposter. Dengan demikian, secara ekonomi, dihasilkan dengan biaya murah dan oleh karenanya disajikan kepada pelanggan dengan harga bersaing.
Sesaat diciptakan Komposter Elektrik Bio Phoskko, datanglah berkunjung Walikota Bandung ke BBI-MarkNet di Batam. Di saat itu, komposter hasil rakitan aneka spare part buatan Jepang dan Bandung - yang diproduksi di Batam- dipajang dan mendapat perhatian kalangan wartawan. Bagi Batam, dengan kondisi tanah mengandung bauksit dan terkatagori jenis Podsolik Merah Kuning (PMK)- yang kering, kehadiran mesin pembuat kompos yang praktis tentu sangat didambakan. Dengan adanya komposter elektrik pada harga yang terjangkau, kini rumah tangga di Batam dapat mengolah sampah dapur dan sisa makanannya dengan hanya 10 menit saja. Diperolehnya kompos dan pupuk organik cair, bagi warga Batam yang mau mengolah sampah rumahnya secara mandiri, sangatlah berarti jika mengingat harga kompos Rp 7.900/kg dan harga pupuk kompos cair Rp 40.000,-/ botol 500 ml atau 5 kali lipat lebih dibanding harga kompos di Jawa. Tentu saja dengan itu akan mendorong makin banyaknya rumah di Batam yang terik untuk memiliki taman pekarangan. Dan, itu berarti juga penghematan baru atas biaya AC, karena rumah dengan banyak tanaman jadi nyaman dan teduh.
VIDEO; Cara Praktis Membuat Pupuk Cair Dg Komposter Elektrik dengan memanfaatkan mesin cuci rusak (modivikasi Kencana Group)
Info: Silakan kontak kami atau email di Klik di SINI
atau contak person di; 0411-2686031, 085215497331 Gerai Online kami di Klik di SINIatau kunjungi Demoplot kami di Makassar (komplek pepabri Blok D3/10 Sudiang Permai).
Video Sampah ( Part 06) : Pengelolaan Sampah Skala Bisnis
Lazimnya dalam bisnis, ketika pengusaha membeli bahan baku harus membayar dong. Tapi, teknologi Bio Phoskko dalam pembuatan kompos padat dan organik cair skala bisnis (komunal) telah membuat anomali ( beda dengan lazimnya).
Paket teknologi Bio Phoskko- yang terdiri dari aktivator, komposter Rotary Kiln dan aneka mineral penggembur ( bulking agent) telah merobah pengolahan sampah kota tidak lagi dipersepsi dengan bau, kuno maupun tidak praktis dan kumuh. Teknologi ini telah menjadikan pengolahan sampah skala komunal di dekat sumber penghasil -misalnya pemukiman dan pasar - sebagai suatu usaha yang menguntungkan, higienis, modern dan cepat. Selanjutnya Anomalinya, ketika pengusaha mengambil atau menerima sampah organik - sebagai bahan baku dalam usaha kompos di suatu wilayah pemukiman maupun area publik, bukannya harus membayar, melainkan bahkan, mendapat retribusi kebersihan. Kedepan, dan kini banyak perusahaan sudah menikmatinya, dalam skala pengolahan sampah dilakukan oleh industri, perkebunan, atau perusahaan -yang mengolah bahan tambang dan sumberdaya alam atau bisnis dengan areal luas lainnya, malahan akan berpeluang mendapatkan dana CDM (Clean Development Mechanism) yakni sejumlah dana kompensasi atas usaha pengurangan emisi methan dan karbon. Atau jualan emisi karbon kepada negara lain ( ekspor gitu lho ) - sebagaimana konvensi dalam "Protokol Kyoto". Lho kok bisa ya ?
Sampah ( Part 05): Mengelola Sampah Di Rumah Menjadi Mudah
Masalah yang mungkin timbul dalam penggunaan Komposter dan rekomendasi pemecahannya:
1. BAU
Penyebab :
Tumpukan sampah terlalu padat dan basah sehingga tidak cukup oksigen
dalam tumpukan
Pemecahan :
aduk tumpukan sehingga dapat teraliri udara & tambahkan bahan-bahan
kering yang kasar seperti jerami dan daun untuk menyerap kelembaban yang
berlebihan.
2. LALAT, LARVA LALAT (BELATUNG), KECOA, & TIKUS
Penyebab :
bahan-bahan yang tidak tepat seperti daging & minyak masuk ke dalam
komposter, kurangnya sumber karbon dan tutup komposter yang tidak rapat .
Pemecahan :
kubur sisa makanan ditengah tumpukan, tutup dengan sumber karbon
yang cukup dan membuang sampah ke dalam komposter pada pagi jam 05.00-05.30
WIB & sore diatas jam 17.00 WIB, menanam tanaman yang berdaun keras & berduri di sekitar komposter, menutup rapat komposter dan menambal lubang komposter yang bocor dengan lem pipa atau lem aquarium
Video Sampah ( Part 04): Paket Teknologi Pengelolaan Sampah
UU No.18/Tahun 2008, Pengelolaan Sampah Akan Hentikan Sistem Penimbunan Sampah
Kapanlagi.com - Persetujuan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengelolaan Sampah untuk ditetapkan menjadi Undang-Undang oleh DPR-RI diharapkan membawa perubahan yang mendasar dalam tata-kelola sampah di Tanah Air, salah satunya adalah penutupan semua TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang menggunakan sistem penimbunan dalam waktu lima tahun ke depan. "Lima tahun mendatang semua TPA yang menggunakan sistem open-dumping (ditimbun di tanah lapang terbuka - red) akan ditutup. Proses penutupan ini akan berlangsung secara bertahap," kata Ilyas Asaad, Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Penataan Lingkungan, di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa biaya penutupan TPA sistem open-dumping akan dipikul bersama-sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. "Penutupan TPA akan dibiayai oleh APBN dan APBD, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing daerah dan kapasitas tampung sampah," katanya menambahkan.
Selama ini sebagian besar sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih bertumpu kepada pendekatan akhir (end of pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke TPA. "Dengan UU Sampah, kita ingin mengubah paradigma end of pipe ini sehingga sampah tidak lagi dilihat sebagai barang tak berguna tapi justru barang yang memiliki nilai ekonomis bila diolah dengan tepat," kata Menteri Negara Lingkungan Hidup (Menneg LH), Rachmat Witoelar.
Sementara itu Gempur Adnan, Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan, menjelaskan bahwa saat ini sistem end of pipe sudah dilihat tidak layak lagi oleh semua pemerintah daerah dan kota. "Resistensi sosial dari masyarakat dan biaya operasional TPA open-dumping terlalu tinggi, belum lagi kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh TPA jenis ini," kata Gempur Adnan. Menurut dia, saat ini konsep pengelolaan sampah dengan 3R yaitu reduce, reuse, recycle atau "mengurangi, menggunakan ulang, dan daur ulang") sudah banyak dilakukan di tingkat rumah tangga, RW, dan kelurahan. "Dan sejak tahun 2007 KLH tengah menguji-cobakan konsep 3R ini untuk tiga kota kecil, yakni Jombang, Singaparna, dan Magelang," katanya.
Dengan sistem pengelolaan sampah yang mengutamakan konsep 3R, lanjut Gempur, pemerintah setempat justru mendapat keuntungan ganda, yaitu pembukaan lapangan pekerjaan, pertambahan nilai ekonomis dari daur ulang, dan volume sampah yang dikirim ke TPA cuma 30% dari kondisi pengelolaan tanpa konsep 3R. Dalam program berdurasi dua tahun ini, pemerintah pusat menyumbangkan dana masing-masing 1 miliar rupiah untuk tiap kota, sebagai bantuan bagi pembuatan sistem pengelolaan sampah yang tidak lagi open-dumping dan pengembangan konsep 3R.
Selain 3 kota kecil tadi, KLH juga akan menggelar proyek uji coba serupa untuk sekitar 4-5 kota besar di Indonesia, antara lain Batam dan Makassar. "Saya yakin dalam waktu lima tahun semua TPA open-dumping di kota kecil dan sedang bisa ditutup. KLH akan memberikan panduan bagaimana membuat TPA dengan teknik landfill, yaitu menumpuk sampah dengan diselingi lapisan tanah," kata Tri Bangun Laksono dari Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan KLH (Kementerian Lingkungan Hidup).
Sementara untuk pemerintah kota besar dan metropolitan yang bisa melaporkan rencananya menutup TPA "open-dumping" dalam kurun waktu dua tahun ke depan, lanjut Tri Bangun Laksono, akan mendapat insentif anggaran lingkungan hidup. Gempur menambahkan, insentif dan disinsentif bagi pemerintah kota yang menutup TPA "open-dumping"nya akan juga terlihat dari skor Adipura.
"Bila Pemda (Pemerintah Daerah) menutup TPA open-dumping, kita akan memberikan nilai plus dalam kompetisi Piala Adipura. Tingginya tingkat penerapan 3R di suatu kota juga akan menambah skor kota itu dalam ajang Adipura," demikian Gempur. (*/cax)
Kami menjawab banyak pertanyaan mengapa harus susah-susah mengurusi sampah kemudian ada ajakan dan gerakan pilah dan olah sampah kota (posko) ditempat timbulnya untuk hijaukan bumi Indonesia ?
Pertama, pembuangan jumlah sampah yang dihasilkan 220 jt penduduk Indonesia adalah 176.000 ton/hari atau 63. 360.000 ton/ tahun (standar 0,8 kg/jiwa/kapita atau 2,6 liter/orang/hari) ke TPA menyebabkan polusi bau dan cairan sepanjang jalan dari TPS menuju TPA.
Video Sampah ( Part 01) : Merobah Masalah Menjadi Berkah
Akumulasi sampah kota- sebagaimana kita ketahui, berasal dari keluaran unit terkecil penghasil sampah yang saat ini belum mampu mendayagunakannya, yakni rumah tangga. Sampah - pada level rumah tangga- masih diposisikan masyarakat Indonesia - sebagai material yang harus dibuang dan belum dianggap suatu sumberdaya - adalah pemicu awal lahirnya masalah sampah kota. Persepsi masyarakat urban- yang kini mendominasi populasi suatu kota Indonesia, memang tidak pernah menghadapi masalah sampah di daerah asalnya. Perilaku kaum komunitas urban ini terbawa ke level pusat bisnis komersial dan pusat-pusat keramaian kota (seperti pasar, bahkan Mall serta pusat pertokoan lainnya). Dan besarnya sumbangan sampah rumah tangga terhadap suatu kota ( hingga 65 %) telah berakibat langsung pada munculnya masalah sampah kota.
_______________________________________
Secara teknis dan ekonomis pendirian Instalasi Pengelolaan Sampah Kota (IPSK) sangat layak bagi semua kota Indoneia. Dan, setidaknya bagi katagori Kota Metropolitan - dalam menghadapi pengelolaan sampah, menjadi tidak perlu terlalu tergantung 100 % pada keberadaan TPA- yang makin sulit mendapatkan lokasi tanpa adanya resistensi penduduk sekitarnya. Dengan pendirian IPSK, memang masih ada sampah (sisa bahan B3, waste un-recycle dan sampah Rumah Sakit- klinik) yang memerlukan penanganan khusus - misalnya dapat saja dibawa ke TPA atau dibakar menggunakan Incenerator.
Model IPSK dengan teknologi tersebut jauh lebih murah dibandingkan dengan investasi model TPA. Menurut Kasubdit Dirjen Tata Kota dan Pedesaan (Investor Daily, 24-8-2004) :" Untuk membangun Tempat Pembangunan Akhir (TPA) sampah dikota berpenduduk 250 ribu jiwa, diperlukan dana Rp 23 miliar per tahunnya". Menurut Kasubdit wilayah Barat II Dirjen Tata Perkotaan dan Pedesaan Depkimpraswil Bambang Purwanto, dana tersebut untuk pengadaan lahan, pengadaan alat berat, Konstruksi TPA, dan operasi, juga dibutuhkan untuk pemberian gaji karyawan. Dana tersebut seharusnya tidak hanya dari APBD Kota/ Kabupaten. Namun, perlu juga dari APBD provinsi dan APBN.
Disamping kelayakan ekonomi, pendirian IPSK diatas akan memberikan lapangan kerja dan usaha baru kepada UKMM ( Usaha Kecil dan Mikro) di lokasi-lokasi dekat pemukiman, RW maupun Komplek Perumahan.
Video Sampah (Part 03) : Masalah Sampah Di Indonesia
Masalah sampah kota seringkali ingin diselesaikan cara mudah dengan membakarnya. Tanpa disadari, polutan yang timbul dari plastik dan bahan organik terbakar beresiko bagi menurunnya derajat kesehatan penduduk.
Konsep penanganan sampah - yang dikenal dengan 3 R ( Reuse, Reduce, Recycle) menjadi rumit manakala budaya masyarakat tidak siap memilah sampah berdasar jenis organik, an-organik logam- plastik- kaca. Upaya memasyaratkan pengomposan organik terkendala dengan bercampurnya aneka jenis sampah.
Jalan keluar dengan dibakar insinerator menjadi pilihan. Namun menurut pakar lingkungan tungku pembakaran dibawah 1000 derajat celcius tetap beresiko menghasilkan dioxin yang berbahaya bagi lingkungan. Maka jalan teraman, penanganan sampah secara berjenjang dan terdesentralisasi dimulai di level rumah - dengan memilah, kemudian menyediakan kontainer berdasar jenis, mendaur ulang jenis plastik- kertas- logam serta sisanya berupa sampah un-degradable dan sampah klinis dikelola di TPA. ______________________________________
Namun mengingat karakteristik sampah di Indonesia berbeda dengan sampah di negara-negara maju, yakni komposisi organik justru lebih besar hingga 70 % dibanding sampah di Singapura- yang misalnya hanya 6 %, maka proses dekomposisi sampah mutlak diperlukan.
Pengomposan sampah menjadi bahan organik kaya nutrisi bagi tanaman telah dipraktekan di banyak keluarga di Eropa. Mereka menggunakan komposter di halaman, menjadikan sampah kebun dan dapur sebagai bahan pengomposan- yang kemudian amat berguna dalam kegiatan pertamanan. Kini, cara itu dikenalkan di Indonesia dalam komposter sebagai media dekomposisi dan memanfaatkan konsorsium mikroba-bakteri dan jamur sebagai aktivator proses dekomposisi tersebut.
Maka, menggunakan komposter di rumah-rumah Indonesia menjadi amat relevan jika mengingat keperluan akan pupuk organik bagi penyuburan kebun pekarangan, menambah penghasilan keluarga dengan menghemat belanja akan bahan dapur serta sekaligus mengurangi beban TPA- yang makin bermasalah di banyak Kota di tanah air.
Jangan ambil resiko dengan membiarkan sampah menjadi sarang penyakit di rumah dan lingkungan, ganti tong sampah dengan komposter pada harga yang yang sama.
Video Sampah (Part 02) : Memahami Karakter Sampah Indonesia
Sampah sebagai material sisa aktivitas manusia seringkali menjadi penyebab timbulnya masalah manakala tidak mendapat pengelolaan secara pantas. Timbulnya longsor, penumpukan sampah sampai pada munculnya penyakit akibat sanitasi lingkungan yang buruk serta ledakan metan di TPA, masalah kurangnya anggaran (APBD) investasi bagi pengangkutan dari sumber penghasil sampah ke Tempat Pembuangan (TPA) serta berkembangnya penyakit karena rendahnya sanitasi lingkungan adalah beberapa masalah dari sekian banyak kerugian akibat salah kelola sampah.
Selanjutnya, jika dilihat dari karakter sampah, komposisi sampah akan membekali kita memilih teknologi yang dianggap dan diyakini memberi solusi tepat. Berdasar data penelitian, komposisi sampah di perkotaan Indonesia masih diwarnai oleh kehidupan agraris dan perilaku konsumsi non-instant. Hal itu tercermin dari sampah organik atau mudah terurai (degradable - yang berasal dari makhluk hidup sejenis sisa sayuran- ikan dan hewan maupun buah-buahan memiliki komposisi penyumbang terbesar; Dan, ini berbeda nyata dibanding komposisi sampah di perkotaan negara maju seperti Singapura, yang dominan disumbang material sampah undegradable sejenis styrofoam, plastik dan kertas. Dengan pemahaman itu, teknologi yang baik digunakan di suatu negara belum tentu serta merta sesuai bagi pengelolaan sampah Indonesia.
Efek sampah terhadap manusia dan lingkungan sebagai berikut : Dampak terhadap Kesehatan
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
KabarIndonesia- Menurut penelitian ahli kesehatan Amerika Serikat tahun 2000, diperkirakan sekitar 30% penyakit kronis berawal dari makanan yang tidak sehat. Penambahan bahan pengawet dan pewarna, cara pengolahan masakan dengan suhu awal yang panas seperti menggoreng merupakan penyebab hilangnya kandungan yang bermanfaat dalam makanan tersebut. Faktor lainnya adalah karena pola rutinitas dan kelelahan yang mengganggu kesehatan.
Mengingat pentingnya menjaga kesehatan yang sangat berharga tersebut, banyak orang memilih pola hidup sehat dengan memperhatikan makanan, pola makan, serta waktu istirahat. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi makanan organik. Buah dan sayur organik dipilih sebagai alternatif karena makanan organik tersebut bebas dari pestisida atau penambahan bahan kimia dalam proses kehidupannya.
KabarIndonesia - Banyaknya kegiatan yang dilakukan dan sulit untuk dihindari, banyak yang lupa akan kesehatannya. Misalnya, sebelum kita makan kita harus mencuci tangan hingga bersih, tapi orang-orang tidak memikirkan itu. Mereka hanya menuruti teriakan perut mereka. Tanpa disadari mereka telah melakukan salah satu penurunan organ tubuh secara perlahan. Apalagi apabila melakukan itu sehari-hari, kemungkinan hidup mereka tidak akan bisa senyaman orang yang benar-benar memperhatikan kesehatan
Apalagi jika karena kita terlalu sibuk untuk hidup, kita bisa lupa atau tidak punya waktu untuk diri sendiri apalagi keluarga atau orang lain. Hal ini sangatalah berbahaya, karena ini bisa mengakibatkan kondisi na semua orang bisa melakukannya dengan didampingi niat. Untuk melakukannya sangatlah mudah yaitu melakukan hal sehat terkecil terlebih dahulu. Misalnya mencuci tangan sebelum makan, berolah raga dan sebagainya.
Tetapi banyak keluhan yang membuat orang sulit untuk melakukannya yaitu tidak memiliki waktu untuk makan, karena kurangnya dana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga penyakit datang menghampiri kita,
Tidaklah sulit, meskipun sebenarnya jawaban itu benar. walaupun begitu, banyak jalan keluar yang menanti kita untuk mengatasi ini semua.
Tips trik untuk sehat sebelum beraktifitas adalah:
Gadis Bandung Membuat Kompos Dari Sampah Kota; Info detail sms +62-85215497331
Masalah Sampah Di Indonesia
Selamatkan Bumi Kita
javascript:void(0)
Anthurium Jenmanii; Sang Raja Anthurium Daun
Pesona Anthurium Gelombang Cinta
Hijaukan Hati Anda
“Jika ingin panen satu musim, maka tanamlah biji-bijian, jika ingin panen setiap tahun maka tanamlah pohon-pohonan, jika ingin panen sepanjang tahun maka didiklah yang menanam (manusianya)”
Zona Hijau; Rubah Paradigma tentang Kelola Sampah
Bermasalahnya Pengelolaan sampah kota di Indonesia bukan sekedar karena keterbatasan teknis-teknologis dan ekonomis. Masalah lebih karena budaya, kebiasaan lama, perilaku dan cara pandang masyarakat terhadap sampah yang tidak proporsional dan memang harus diubah. Gerakan Indonesia Hijau berusaha menjalin komunikasi dengan peminat dan pelaku pengelolaan sampah kota menjadi Barang Bermanfaat atau menjadi bahan baku produksi lanjutan, Akhirnya sampah akan bermanfaat dan berhasil guna. Karena rumah tangga yang baik dan hebat adalah yang memanfaatkan kembali sampahnya. Sampah adalah sahabat, sampah adalah berkah. Mari kelola sampah dengan Bijak...Amin
Reuters: Food Crisis
Jutaan eBook AsrulHoeseinBrother ada di SINI...mau, KLIK saja